BULLETIN
Mereka Yang Tak Kunjung Sehat
 

Kata Pengantar

Puluhan korban gempa di kabupaten Klaten mengalami depresi dan gangguan kejiwaan. Mereka menderita trauma dan depresi melihat kenyataan hidup yang dialami, yan seakan-akan sudah tak ada lagi harapan. Di Rumah Sakit Jiwa Daerah dr Soedjarwadi Klaten dirawat lebih dari 20 pasien baru dari daerah gempa. Mereka yang mengalami gangguan jiwa tersebut rata-rata berusia diatas 30 tahun. Ekspresi depresi mereka beragam. Ada yang sering berlari-lari ketakutan dengan wajah pucat karena merasa ada bahaya senang mengancam dirinya. Ada pula yang hanya terdiam, menolak berkomunikasi dengan lingkungannya. Sebagian besar pasien ini berasal clan Kecamatan Gantiwarno, Wedi, dan Prambanan.

Depresi adalah gangguan jiwa yang paling lazim dijumpai di masyarakat. Prevalensinya cukup tinggi, berkisar 5-10 persen, perempuan beresiko dua kali lebih banyak dibanding pria. Pada kelompok usia remaja dan usia lanjut juga lebih rentan menderita depresi. Umumnya penyakit ini disebabkan oleh beban hidup yang terlalu berat. Di Jawa Barat penderita gangguan jiwa mengalami peningkatan jumlah yang signifikan. Di panti Yayasan Galuh misalnya, sejak tahu 2004jumlah pasien mengalami fluktuasi hingga 260 pasien. Padahal daya tampung panti tersebut hanya 110 pasien.

Istilah depresi dalam ilmu kesehatan jiwa dipergunakan untuk menggambarkan suatu kondisi gangguan jiwa yang secara klinis tampil dalam bentuk suasana perasaan murung, kehilangan gairah hidup, lesu, putus asa, serta kehilangan rasa percaya diri, disertai berbagai keluhan fisik, seperti berat badan turun, disfungsi seksual, dan gangguan tidur.

Survei Badan Kesehatan Dunia (WHO) di 14 negara (1990) memperlihatkan bahwa depresi merupakan masalah kesehatan yang mengakibatkan beban sosial nomor empat terbesar di dunia. Prediksi WHO dalam dua dekade mendatang diperkirakan lebih dari 300 juta penduduk dunia menderita depresi. Pada tahun 2020 depresi akan menempati masalah kesehatan nomordua terbesar setelah penyakit kardiovaskuler.

Survei terbaru di tahun 2006 ini WHO mengungkapkan, sejumlah 26 juts penduduk Indonesia mengalami ganguan jiwa. "Sebanyak 12-16% atau sekitar 26 juta dari 260 juta penduduk Indonesia mengalami gejala ganguan jiwa," kata Albert Maramis, perwakilan WHO untuk Indonesia. Dari total populasi penderita gangguan jiwa, sekitar 13,2 juta orang mengalami depresi. Sementara angka bunuh diri akibat penyakitjiwa di Indonesia mencapai 1.600-1.800 orang setiap 100.000 penduduk.

Penelitian di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan 90 persen individu yang mengakhiri hidup dengan jalan bunuh diri, menderita berbagai bentuk gangguan jiwa, termasuk penyalahgunaan zat dan alkohol. Selain itu penyakit fisik terutama yang menimbulkan nyeri dan disabilitasjuga menjadi penyebab.

Gangguan jiwa yang paling sering berhubungan dengan risiko bunuh diri adalah depresi (perasaan sedih, bersalah dan tak berguna yang mendalam, disertai hilangnya gairah hidup), diikuti oleh gangguan bipolar (fluktuasi mood senang dan sedih yang berlangsung cepaf), skizofrenia (gila, karena isi pikirannya tidak sesuai dengan realita), anoreksia nervosa dan bulimia nervosa (menurunkan asupan makanan dengan sengaja), perilaku mutilasi diri, dan penyalahgunaan zat. (redaksi)

 

Daftar Isi

  • Belakang Meja
  • Menu Bulan Ini
  • Surat Pembaca
  • Marka (Fokus Utama) : Hentikan Diskriminasi Penderita Gangguan Jiwa
  • Rambu (Fokus Khusus): Komersialisasi Dan Pengebirian Hak Reproduksi Perempuan
  • Kabar Dari Akpol
  • Sorot (Essay Foto) : Pande Besi
  • Opini : Pokja COP/ Polmas : Menuntut Hak Atas Sehat
  • Lapor (Kegiatan COP): Pembukaan Pesantren COP Jethis
  • Opini : Menggugat Angka Kemiskinan
  • Resensi : Narasi Kemiskinan Dari (Seluruh) Penjuru Negeri
  • Catatan Kaki : Berita Basi : Korupsi !
English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
17 Maret 2021

Oleh: Dr. Despan Heryansyah, SHI., SH., MH.
(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) FH UII Yogyakarta)

Terminologi yang penulis gunakan dalam artikel ini adalah “pemilukada”, bukan “pilkada”, bukan pula “pemilihan” seperti yang selama ini digunakan. Terkait dengan pemilihan kepala daerah, terdapat perdebatan panjang yang melelahkan bahkan sampai hari ini belum selesai, yaitu apakah rezim pemilihan kepala daerah termasuk rezim pemilu, ataukah rezim pemilihan kepala daerah.

News
05 November 2020
Saat ini, terdapat sembilan (9) UPT Pemasyarakatan di Jogjakarta yang baru saja melembagakan ULD yaitu: Lapas Kelas IIB Sleman, Rupbasan Kelas I Yogyakarta, Rutan Kelas II Bantul, Rupbasan Kelas II Bantul, Rutan Kelas IIB Wates, ....
20 Oktober 2020
Merespon perintah langsung dari Pasal 37 UU No. 8 Tahun 2016 tersebut, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjend PAS) pada tanggal 1 Sepetember 2020 lalu mengesahkan Surat Edaran Nomor: PAS-18.HH.01.04 Tahun 2020
13 Oktober 2020
Policy Brief yang diajukan oleh Pusham UII kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta, mengenai pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD)
08 Oktober 2020
Policy Brief yang diajukan oleh Pusham UII kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta, mengenai pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD)...