CATATAN PINGGIR
05 Juni 2017
MEREKA DATANG MEMBAWA IDEALISME
 

Puguh Windrawan, S.H., M.H.

Pemimpin Redaksi Pranala

 

Di tengah arus deras informasi yang menggejala dengan berbagai kepentingannya, pers mahasiswa seolah datang membawa harapan. Ia ditugaskan untuk menjadi media alternatif bagi bermacam isu yang ada. Dengan basis anggotanya kebanyakan mahasiswa, ada harapan bahwa media alternatif itu akan membawa idealisme yang menggebu. Tak pelak, sunggingan penuh harap tertancap di pundak para mahasiswa itu. Bagaimanapun juga, idealisme yang nyaris tak tertandingi dari para mahasiswa pernah menjadi contoh gerakan yang sempurna. Meruntuhkan tirani sebuah rezim yang berkuasa nyaris 30 tahun lebih.

Hanya saja nasib persma tak selamanya baik. Hiruk-pikuk demokrasi yang ditandai dengan

kebebasan berekspresi, ternyata tetap membawa cela. Mereka dihadapkan pada kenyataan tak bisa terbit lantaran ada ancaman dan dendam dari mereka yang anti untuk dikritik. Kali ini bukan semata aparat negara pelakunya, bukan pula moncong senapan saja, tetapi justru

datang dari dalam. Pimpinan kampus ternyata menjadi tembok penghalang bagi keberadaan kebebasan berekspresi. Sebagai sebuah hak, kebebasan berekspresi dijamin konstitusi.

Tidak ada satupun daya halang yang bisa meruntuhkan norma tersebut. Hanya saja inilah permasalahannya. Norma yang ada dan disepakati ternyata tak dijalankan sepenuh hati. Mudah ditebak peristiwanya. Ada sebuah norma yang tak dijalankan. Ada sebuah norma yang berbeda pada kenyataannya. Inilah yang kemudian terjadi pada jaminan hak kebebasan berekspresi pada persma. Mereka di jamin keberadaannya dan bisa menulis untuk menuangkan gagasannya. Hanya saja begitu mereka mencoba melakukan kritik kepada institusi yang menaunginya, kebanyakan persma menemui halangan. Ancaman tidak ada dana kemahasiswaan menjadi lazim untuk dilontarkan. Dengan begitu, persma harus memutar otak untuk menghidupi penerbitannya.

Padahal sudah ada mekanisme apabila kritik yang dilontarkan dianggap salah. Katakanlah persma menyebarkan tulisan yang dirasa tak adil, ada hak jawab yang bisa dilakukan. Ada mekanisme dan proses yang wajib diikuti oleh persma itu sendiri. Hal itu yang harus dilakukan terlebih dahulu sebagai sebuah kedewasaan dalam proses berdemokrasi. Tidak ada yang namanya pembredelan atau pelarangan terbit. Keduanya hanya ada dan dapat ditemukan pada zaman tatkala demokrasi menjadi barang mati.

 

Sumber :

Panala edisi 10, Juli - Agustus 2016

Judul : Persma Di Persimpangan Jalan

Penerbit : PUSHAM UII

English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
20 Oktober 2020

Oleh: Dr. Despan Heryansyah, SHI., SH., MH.
(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) FH UII Yogyakarta)

Salah satu instrumen penting dan substansial dalam pemiluhan umum adalah mekanisme atau sistem keadilan pemilu. Sistem keadilan pemilu sederhananya dapat dimaknai sebagai sistem untuk memastikan proses pemilu di suatu negara berjalan secara bebas, adil, dan jujur. Dalam sistem tersebut terdapat beberapa bagian, di mana salah satunya adalah mekanisme penegakan hukum pemilu. Mekanisme ini digunakan sebagai sarana terakhir dalam membentengi keadilan pemilu.

News
20 Oktober 2020
Merespon perintah langsung dari Pasal 37 UU No. 8 Tahun 2016 tersebut, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjend PAS) pada tanggal 1 Sepetember 2020 lalu mengesahkan Surat Edaran Nomor: PAS-18.HH.01.04 Tahun 2020
13 Oktober 2020
Policy Brief yang diajukan oleh Pusham UII kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta, mengenai pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD)
08 Oktober 2020
Policy Brief yang diajukan oleh Pusham UII kepada Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Daerah Istimewa Yogyakarta, mengenai pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD)...
07 Oktober 2020
Perempuan Berkebaya Kulon Progo adalah organisasi perempuan lintas iman yang didirikan pada 30 Agustus 2019. Perempuan Berkebaya memandatkan diri untuk turut serta dalam pelestarian budaya dan menjaga kerukunan antar iman di Kulon Progo.