CATATAN PINGGIR
‹‹  prev | 2 | 3 |  next  ››
  • 28 September 2020

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta)

    Sengkarut hubungan pusat dan daerah sudah sejak lama mewarnai diskursus politik dan hukum ketatanegaraan Indonesia. Sejak penjajahan kolonial Belanda, Jepang, awal kemerdekaan hingga hari ini,....

  • 21 September 2020

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta)

    Ada yang anomali dalam sistem perwakilan Indonesia. Anomali itu, kalau kita perhatikan dari fenomena yang terjadi belakangan ini, bahkan berada dalam substansi atau jantung dari sistem perwakilan itu sendiri.

  • 16 September 2020

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta)

    Menghadapi Pandemi Covid-19 yang tengah melanda Indonesia dan dunia, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengeluarkan dua paket kebijakan. Pertama, Menkumham mengeluarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.....

  • 09 September 2020

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta)

    Pandemi corona “memaksa” kita untuk merubah seluruh aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, tentu saja termasuk aspek ketatanegaraan. Berdasarkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR...

  • 02 September 2020

    Oleh: Despan Heryansyah

    (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK))

    Kalau kita perhatikan dengan seksama, ada perbaikan kuantitas menulis dari para penulis Indonesia pasca reformasi tahun 1998. Kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimanapun layak mendapatkan apresiasi.

  • 04 Juli 2017

    Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

    (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

    Model pemidanaan yang terfokus pada pemberatan hukuman terhadap pelaku dengan tujuan agar menimbulkan efek jera adalah model lama yang sudah mulai ditinggalkan oleh kebanyakan negara-negara modern. Kini, telah terjadi merit sistem terhadap teori pemidaan melalui infiltrasi keilmuan lain semisal antropologi, sosiologi, psikologi, dan khususnya Hak Asasi Manusia (HAM). Yang terakhir merupakan diskursus yang paling banyak dibicarakan, yaitu perkawinan antara pemidanaan dengan hak asasi manusia. Wacana ini, layak untuk diangkat di Indonesia saat ini karena momentum perubahan UU Terorisme tengah gencar dibicarakan.

  • 13 Juni 2017

    DARURAT TERORISME

    Oleh: Despan Heryansyah, SHI., MH.

    (Mahasiswa Program Doktor Fakultas Hukum UII YOGYAKARTA dan Peneliti pada Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) Fakultas Hukum UII)

    Teroris menjadi masalah bersama semua negara di dunia termasuk Indonesia, tidak melihat apakah negara maju, berkembang, bahkan tertinggal sekalipun, tak ada yang luput dari ancaman terorisme. Bom bunuh diri yang terjadi di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur beberapa waktu lalu (24/5) seolah menjadi tanda bahwa masalah terorisme masih menjadi ancaman utama di negeri ini. Pelaku teror masih berkeliaran dimana-mana, bahkan kota besar sekelas Jakarta sekalipun. Seruan presiden Jokowi terhadap para pelaku teror bahwa “kami tidak takut masti”, tentu berdampak positif terhadap psikologi masyarakat Indonesia, namun itu sama sekali tidak cukup untuk menyelesaikan masalah terorisme.

  • 05 Juni 2017

    MEREKA DATANG MEMBAWA IDEALISME

    Puguh Windrawan, S.H., M.H.

    Pemimpin Redaksi Pranala

     

    Di tengah arus deras informasi yang menggejala dengan berbagai kepentingannya, pers mahasiswa seolah datang membawa harapan. Ia ditugaskan untuk menjadi media alternatif bagi bermacam isu yang ada. Dengan basis anggotanya kebanyakan mahasiswa, ada harapan bahwa media alternatif itu akan membawa idealisme yang menggebu. Tak pelak, sunggingan penuh harap tertancap di pundak para mahasiswa itu. Bagaimanapun juga, idealisme yang nyaris tak tertandingi dari para mahasiswa pernah menjadi contoh gerakan yang sempurna. Meruntuhkan tirani sebuah rezim yang berkuasa nyaris 30 tahun lebih.

  • 28 Februari 2017

    Pekerjaan Rumah Agar Kota Semakin Ramah

    Puguh Windrawan, S.H., M.H.

    Pemimpin Redaksi  Pranala

     

    Pulau Bali memang indah. Pemandangan alamnya sungguh cantik membelalakkan mata bagi sesiapa saja yang melihatnya. Lantaran itulah, kerapkali Bali dijadikan tujuan wisata yang tak terbantahkan. Aman, damai, dan tenang. Seperti itulah gambaran dari pulau ini. Sepintas, sukar sekali bagi kita untuk melihat apa yang sebenarnya menjadi masalah di sana. Akan tetapi, seorang kritikus lokal pernah menterjemahkan adanya potensi konflik yang terpendam. Perlu menjadi perhatian lebih karena kritikus itu melihat sebuah celah yang bilamana tak dijamah akan menimbulkan masalah.

  • 18 April 2016

    BEDA ITU FITRAH DAN BUKAN MASALAH

    Oleh: Puguh Windrawan

     

    Mengumpulkan orang untuk bisa duduk bersama itu bukan persoalan sepele. Apalagi bila dalam benak mereka mempunyai persepsi berbeda-beda soal agama. Lazimnya persepsi yang berbeda, bisa jadi akan menimbulkan persoalan yang tak selesai. Adu argumen, saling menyalahkan dan merasa dirinya yang paling benar dan paling berhak masuk surga. Inilah kesalahan manusia yang tak pernah berhenti sedari zaman purba. Mengeliminasi hak Tuhan untuk menentukan siapa saja yang bisa masuk surga. Padahal manusia sama sekali bukan Tuhan.

    Tapi anggapan miring itu ternyata salah kaprah. Setidaknya ini yang terjadi di sebuah kota kecil nan dingin, Wonosobo, Jawa Tengah. Dibantu oleh seorang kawan di sana, komunikasi mudah terjalin diantara mereka yang berbeda persepsi soal agama. Bayangkan, satu meja besar diisi mereka yang Syiah, Ahmadiyah, bahkan Aboge. Apakah ada gontok-gontokan? Sama sekali tidak! Hanya ada  uasana guyonan dan saling menghormati satu sama lain.

    Perbedaan itu biasa. Bukan untuk dimasalahkan. Banyak orang dengan banyak otak, tentu saja ada beragam cara dan persepsi. Apalagi soal agama yang sudah sejak turun temurun berkelindan dengan budaya setempat. Tuhan lebih bijak menjadikan manusia saling berbeda daripada menjadikannya satu. Saling belajar satu sama lain, dan ternyata suasana itulah yang bisa kita dapatkan di Wonosobo.

  • 11 Agustus 2015

    Saat Lahir,
    BISAKAH KITA MEMILIH
    Apa Agama Kita

    Untuk orang yang saat ini sedang duduk dan kesakitan di luar sana, jika saya ingin meringkas apa yang dapat mereka lakukan dalam hidup, saya akan meringkasnya dalam enam kata, “Manusia mewujud seperti apa yang dipikirkannya.”
    (Mooris Goodman)

    Oleh: Puguh Windrawan

    Saya jadi ingat tulisan Jeffrey Lang pada sebuah buku yang inspiratif. Bukan karena semata-mata ia menjadi muslim. Tetapi, lebih kepada bagaimana ia berusaha mencari apa yang ia yakini. Kebetulan ia adalah seorang professor di sebuah perguruan tinggi di Amerika. Setidaknya, ketika saya membaca buku itu, Prof. Lang masih menjadi Guru Besar Matematika di Universitas Kansas, Amerika. Saya merasa, bagian paling menarik dari pengalaman Prof. Lang adalah ketika suatu saat, ia sedang berjalan dengan Jameela, putrinya yang masih kecil. Kemudian terjadilah dialog diantara mereka.

    Intinya, Jameela ingin bertanya kepada ayahya. Bagaimana seandainya ia kemudian berpindah agama, dari semula muslim ke Kristen? Sebagai penganut Islam, tentu saja Prof. Lang terperanjat. Alasan Jameelah, sebagai seorang anak kecil sangat sederhana. Ia merasa berat dengan apa yang harus dijalankan untuk menjadi kewajiban seorang muslim. Bahkan ia bertanya kepada ayahnya. “Aku sekedar ingin tahu, apakah Ayah akan marah padaku. Apakah nenek dan kakek memarahi ayah ketika engkau keluar dari agama Kristen dan kemudian memeluk Islam?”

  • 20 Februari 2014

    HUKUM TAK MENGERTI
    Penyandang Disabilitas

    Oleh : M. Syafi’ie, S.H.

    Berikan kepada saya hakim dan jaksa yang baik,
    maka dengan peraturan yang buruk pun
    saya bisa membuat putusan yang baik
    -Taverne-

    Penegak hukum adalah pundak bagaimana hukum bisa merespon persoalan-persoalan masyarakat. Adil atau tidak satu penega¬kan hukum, salah satunya bergantung kepada para penegak hukum itu sendiri. Satjipto Rahardjo menga¬takan, penegakan hukum itu bukan merupakan satu tindakan yang pasti, yaitu sekedar menerapkan satu peraturan hukum pada satu kejadian, sebab penega¬kan hukum ibarat menarik garis lurus antara dua titik : antara hukum dan manusia. Padsa level hukum yang normatif, penegakan hukum terlihat sederhana dan mudah, tinggal menerapkan satu peraturan. Tapi, penegakan hukum sebenarnya tidak semudah itu, ka¬rena penegak hukum harus mengerti tentang konteks sosial masyarakat, keadaan manusia yang bermasalah dengan hukum, dan bagaimana teks hukum harus diterapkan pada sisi yang lain.

  • 10 Juni 2013

    Perspektif Islam terhadap Hak Buruh
    Oleh : Eko Riyadi

    Introduksi

    Terdapat dua argumen penting untuk membicarakan Islam dan hak buruh pada saat ini, pertama, pemerintah Indonesia baru saja menandatangani Surat Kesepakatan Bersama Empat Menteri yang salah satunya membatasi kenaikan upah minimum regional bagi buruh. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini menuai kecaman dan menyebabkan gelombang demosntrasi di berbagai daerah terutama kantong-kantong perusahaan masal. Perusahaan masal yang dimaksud adalah perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar seperti industri garmen, industri rokok, industri perlengkapan rumah tangga dan lain-lain. Daerah-daerahnya antara lain Makasar, Surabaya, Semarang, Bandung, Bekasi, Tangerang dan beberapa daerah yang lain.

  • 04 Oktober 2012

    Mengapa Gerakan dan Politik Islam (Gemar) Melayani Kekuasaan?

    Dian Yanuardy

     

    Awal

    Terdapat optimisme yang kuat dari sejumlah peneliti dan pengamat gerakan Islam, bahwa gerakan Islam adalah suatu kekuatan besar yang dapat menjadi elemen penting dari perubahan sosial di Indonesia. Kajian Hefner, misalnya, menyoroti tentang kekuatan kelompok Islam sipil dan demokratik sebagai tulang punggung demokrasi di Indonesia (Hefner 2000; Ramage 2002). Telaah serupa, dengan tekanan yang berbeda, juga pernah disuarakan oleh Eko Prasetyo yang menyebut bahwa kelompok Islam fundamentalis juga memiliki modal sosial yang tak kalah berharganya: barisan massa yang aktif dan militan, sikap oposisional terhadap imperialisme Barat, serta gaya hidup yang bertolak belakang dengan kultur kapitalisme (Prasetyo, 2003).

  • 25 Mei 2012

    Oleh : Tri Guntur Narwaya, M.Si

    “saya ingin memberikan Chaves paspor sehingga ia dapat menjadi warga Palestina.Kemudian kami memilih dia menjadi presiden Presiden,”

    (Mahmud Zwahreh, walikota Al-Masar, dekat kota Bethlehem)

    Kawasan Timur Tengah terus dan kian bergolak. Setiap waktu catatan tentang konflik dari skala kecil sampai yang besar tidak pernah terhenti terdengar. Kawasan ekonomi politik yang basah dengan segala potensi kekayaan dan sekaligus problem konflik berkepanjangan. Dalam catatan sejarah, di wilayah inilah medan laboratorium tempur berbagai ketegangan politik dan perang bersenjata pernah digelar. Tidak tanggung-tanggung ‘proyek bisnis perang’ terhitung mendapat lahan basahnya di kawasan ini.

  • 26 April 2012

    DARI USHUL FIQHI SAMPAI PELANGGARAN HAM

     Oleh : Syakib Arsalam
    Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Hukum UGM

     

    Kesulitan untuk tidak terjebak kedalam isu-isu HAM yang terbaratkan membuat ummat islam meminggirkan HAM serta mengkalim sebagai agenda kaum liberal untuk menguasai isu-isu penting dunia ketiga dalam mendapatkan persamaan dengan negara-negara maju. Efek dari dikotomi HAM dalam epistomolgi Islam telah memecah beberapa pemikir Islam kedalam kelompok-kelompok yang berujung pada tuduhan kelompok pro HAM, sebagai kaki-tangan negara kapitalis.

  • 12 Maret 2012

    Perspektif Islam terhadap Hak Buruh

    Oleh : Eko Riyadi
    Staf PUSHAM UII

    Introduksi

    Terdapat dua argumen penting untuk membicarakan Islam dan hak buruh pada saat ini, pertama, pemerintah Indonesia baru saja menandatangani Surat Kesepakatan Bersama Empat Menteri yang salah satunya membatasi kenaikan upah minimum regional bagi buruh. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah ini menuai kecaman dan menyebabkan gelombang demosntrasi di berbagai daerah terutama kantong-kantong perusahaan masal.

  • 28 Februari 2012

    KEMISKINAN ADALAH PELANGGARAN HAM

    Oleh : Imron, staf Pusham-UII

     

    Persoalan kemiskinan di Indonesia dari satu pemerintahan ke pemerintahan yang lain hingga saat ini belum teratasi dengan baik, bahkan cendrung meningkat pasca tumbangnnya rezim orde baru. Seperti yang diberitakan oleh Kompas bahwa dalam sepuluh tahun terakhir, angka kemiskinan di Indonesia belum membaik. Hingga Juni 2007, angka kemiskinan masih berada pada angka 37,17 juta jiwa atau 17,75 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Namun jika diukur dengan penghasilan sebesar 2 dolar perhari menurut bank dunia maka angka kemiskinan akan sangat banyak yaitu 108 juta orang.

  • 15 Desember 2011

    Muammar Fikrie

    Beberapa waktu lalu penulis sempat mengikuti sebuah seminar, yang diselenggarakan oleh salah satu ormas di Yogyakarta. Dalam kesempatan itu salah satu pembicaranya, Eko Prasetyo melemparkan pendapatnya soal kepahlawanan. Menurut bung Eko, dirinya terheran-heran melihat gambar-gambar pahlawan yang diperlihatkan kepada anak-anak usia Sekolah Dasar.

  • 09 Desember 2011

    M. Mahrus Ali *

    “Para pahlawan bukan untuk dikagumi, tapi untuk diteladani. Maka makna-makna yang mendasari tindakan mereka yang perlu dihadirkan ke dalam kesadaran kita”

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merealisasikan cita-cita pendahulunya, sebaliknya suatu bangsa akan menjadi kerdil bila ia menghianati cita perjuangan para pahlawannya tersebut. Adalah sebuah pengkhinatan terbesar bagi generasi penerus bangsa jika ia mau menyerahkan separuh “kedaulatan” bangsanya untuk kepentingan asing. Dengan dalih modernisasi itulah spirit kepahlawanan bangsa mulai sirna ditelan arus modernitas tersebut. Hilang bagaikan ditelan bumi.

‹‹  prev | 2 | 3 |  next  ››
English
go to english page
Penelitian
daftar penelitian PUSHAM UII
Perpustakaan
daftar buku koleksi PUSHAM UII
Kaos PUSHAM UII
Kaos terbitan PUSHAM UII
Bulletin
Bulletin terbitan PUSHAM UII
Buku
Buku terbitan PUSHAM UII
Newsletter & Komik
newsletter dan komik terbitan PUSHAM UII
Catatan Pinggir
renungan dan analisis singkat
Catatan Pinggir
28 September 2020

Oleh: Despan Heryansyah

(Peneliti Pusat Studi Hukum Konstitusi (PSHK) dan Mahasiswa Program Doktor FH UII Yogyakarta)

Sengkarut hubungan pusat dan daerah sudah sejak lama mewarnai diskursus politik dan hukum ketatanegaraan Indonesia. Sejak penjajahan kolonial Belanda, Jepang, awal kemerdekaan hingga hari ini,....

News
28 September 2020
Perempuan Berkebaya Kulon Progo adalah organisasi perempuan lintas iman yang didirikan pada 30 Agustus 2019. Perempuan Berkebaya memandatkan diri untuk turut serta dalam pelestarian budaya dan menjaga kerukunan antar iman di Kulon Progo.
21 September 2020
Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA) Kab. Bantul sudah berdiri sejak 2017. Sebuah organisasi yang berisi para pemuda-pemudi dari berbagai latar belakang agama dimana keberadaannya diinisiasi dan difasilitasi oleh Kantor Kementrian Agama Kab. Bantul.
18 September 2020
Pusham UII telah mendampingi Kantor Wilayah Kemenkumham DIY untuk mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada masing-masing UPT.
10 September 2020
Pusham UII telah mendampingi Kantor Wilayah Kemenkumham DIY untuk mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) pada masing-masing UPT.